Belajar dari Sang Tokoh Proklamator”Bung Hatta”
Sebelum
masuk ke tema pembicaraan sesuai judul di atas, terima kasih untuk pembaca yang menyempatkan mampir keblog
saya. Hari ini saya akan berbagi cerita mengenai beberapa tokoh menginspirasi mengharumkan nama Indonesia. Kemarin adalah hari Sumpah Pemuda yang biasanya
diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Jika dilihat partisipasi
dari generasi muda masih sangat rendah untuk kemajuan bangasa ini. Bisa kita
saksikan bersama hanya beberapa persen saja pemuda yang mengikuti perkembangan
politik di Indonesia. Sebenarnya bukan hanya itu saja yang bisa kita lakukan,
banyak tindakan-tindakan kecil yang sebenarnya jika ditekuni akan berdampak
besar bagi perubahan negeri ini.
Sebagai
contoh tindakan itu adalah keikutsertaan para pemuda dalam pemilihan umum,
entah menjadi panitia penyelenggara TPS,pemilihan RT dan RW di kampung,
kegiatan gotong royong, kepedulian terhadap warga yang kurang mampu atau
keikutsertaan dalam acara HUT-RI, dan masih banyak lagi yang bisa ditemukan di
lingkungan sekitar kita. Oleh karenanya mari kita sebagai pemuda-pemudi bangsa
yang mengaku berbangsa yang satu Bangsa Indonesia ikut berpartisipasi dalam
rangkaian kegiatan tersebut. Cukup kita berlatih di lingkup sekitar rumah
terlebih dahulu. Terlepas dari itu, saya akan berbagi cerita tentang seorang
tokoh plokamator yaitu Bung Hatta yang mempunyai keteladanan untuk kita semua
generasi muda Indonesia. Ragkuman ini saya dapatkan sudah beberapa bulan lalu
saat saya menyaksikan program di acara televisi yaitu Mata Najwa di Metro TV special
hari pahlawan nasional. Daripada saya bengong cuma liat, saya rangkum deh apa
yang saya dengar. Oke inilah hasilnya…
Seorang
tokoh proklamator yang berpengaruh untuk kemerdekaan Republik Indonesia yaitu
Bung Hatta. Sang tokoh legendaris wakil presiden Republik Indonesia tahun 1945
ini dalam kehidupan sehari-harinya memang dikenal sangat sederhana. Cara
memimpin beliau patut untuk ditiru oleh elite politik dan seluruh generasi muda
Indonesia. Berkat kesederhanaannya Bung Hatta tidak pernah mencapur adukan
antara kepentingan pribadi dengan urusan negara. Bahkan beliau tidak mau menerima
kursi jabatan sebagai komisaris yang dianggap beliau hanya akan memakan gaji
buta. Terbukti dengan kekuasaan besar Bung Hatta tidak pernah menjadikan
dirinya kaya. Beliau
mengenakan busana tidak dinilai dari baru atau tidaknya, tetapi yang diutamakan
adalah kerapian dan kebersihan saat mengenakannya. Beliau tetap bersahaja.
Untuk keinginan membeli sepatu bermerk saja tidak terlaksana hingga beliau
meninggal dunias, beliau hanya memotong gambar sepatu tersebut dan menempelnya
di dinding.
Wajar bila beliau dijuluki sebagai Tokoh Anti Corruption di Indonesia. Sebuah
pemerintahan akan mendedikasikan sebuah penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award bagi pemimpin di Indonesia yang memiliki integritas tinggi, jujur, peduli dan adil. Pemimpin seperti beliaulah yang patut menjadi contoh para pemimpin di Indonesia saat ini.
Bung Hatta sangat benci dengan kolonialisme, tetapi beliau seorang pemikir yang dapat menggambarkan Indonesia beratus tahun kedepan. Hal ini dibuktikan dengan tulisan beliau pada tahun 1957 membahas mengenai demokrasi yang di dalamnya terdapat kebijakan otonomi, oto aktivitas, kebersamaan, dan toleransi. Bung Hatta juga dikenal sebagai tokoh yang suka aturan, artinya beliau sanggat menaati setiap peraturan yang dibuat pemerintah. Sampai suatu saat beliau mengundurkan diri dari jabatannya karena presiden dan wakil presiden dipilih oleh DPR. Kecerdasan Bung Hatta tergambar dengan banyaknya koleksi buku yang dimiliki dan kemanapun beliau tidak pernah lepas dari buku. Ketika mengetahui keberadaan orang kurang mampu, Bung Hatta menyumbangkan buku-bukunya untuk dibagikan kepada orang tersebut.
Seorang
tokoh proklamator yang berpengaruh untuk kemerdekaan Republik Indonesia yaitu
Bung Hatta. Sang tokoh legendaris wakil presiden Republik Indonesia tahun 1945
ini dalam kehidupan sehari-harinya memang dikenal sangat sederhana. Cara
memimpin beliau patut untuk ditiru oleh elite politik dan seluruh generasi muda
Indonesia. Berkat kesederhanaannya Bung Hatta tidak pernah mencapur adukan
antara kepentingan pribadi dengan urusan negara. Bahkan beliau tidak mau menerima
kursi jabatan sebagai komisaris yang dianggap beliau hanya akan memakan gaji
buta. Terbukti dengan kekuasaan besar Bung Hatta tidak pernah menjadikan
dirinya kaya. Beliau
mengenakan busana tidak dinilai dari baru atau tidaknya, tetapi yang diutamakan
adalah kerapian dan kebersihan saat mengenakannya. Beliau tetap bersahaja.
Untuk keinginan membeli sepatu bermerk saja tidak terlaksana hingga beliau
meninggal dunias, beliau hanya memotong gambar sepatu tersebut dan menempelnya
di dinding.
Wajar bila beliau dijuluki sebagai Tokoh Anti Corruption di Indonesia. Sebuah
pemerintahan akan mendedikasikan sebuah penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award bagi pemimpin di Indonesia yang memiliki integritas tinggi, jujur, peduli dan adil. Pemimpin seperti beliaulah yang patut menjadi contoh para pemimpin di Indonesia saat ini. Bung Hatta sangat benci dengan kolonialisme, tetapi beliau seorang pemikir yang dapat menggambarkan Indonesia beratus tahun kedepan. Hal ini dibuktikan dengan tulisan beliau pada tahun 1957 membahas mengenai demokrasi yang di dalamnya terdapat kebijakan otonomi, oto aktivitas, kebersamaan, dan toleransi. Bung Hatta juga dikenal sebagai tokoh yang suka aturan, artinya beliau sanggat menaati setiap peraturan yang dibuat pemerintah. Sampai suatu saat beliau mengundurkan diri dari jabatannya karena presiden dan wakil presiden dipilih oleh DPR. Kecerdasan Bung Hatta tergambar dengan banyaknya koleksi buku yang dimiliki dan kemanapun beliau tidak pernah lepas dari buku. Ketika mengetahui keberadaan orang kurang mampu, Bung Hatta menyumbangkan buku-bukunya untuk dibagikan kepada orang tersebut.
Itulah
kehebatan Bung Hatta seorang teladan yang taat dalam beribadah, karakter beliau
perlu diteladani yaitu mencintai tanah air dan bangsa, memajukan pembangunan
bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memuliakan pendidikan, pola piker
positif, dan tingkah laku. Segala kepemimpinan Bung Hatta ditunjukkan untuk
rakyat, dan mencapai Indonesia merdeka, bukan semata-mata mengejar jabatan dan
memperkaya diri sendiri. Namun untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.
Kesederhanaan Bung Hatta dapat dilihat dari penampilan beliau. Beliau adalah
seorang sosok yang anti membeli baju baru dengan syarat baju lama masih bisa
digunakan. Bukan seberapa mahal dan bagusnya baju, tetapi beliau memperhatikan
kebersihan dan kerapiannya. Asal masih bisa dipakai walau sudah lama kenapa
tidak dipakai.
Pernah suatu ketika beliau menginginkan
sepatu idaman bermerk luar negeri. Karena belum bisa membelinya beliau hanya
memotong gambar sepatu tersebut dari Koran lalu ditempel di dinding kamar tidur
beliau. Sesederhana itukah keinginan beliau untuk mewujudkan keinginannya.
Sungguh patut kita jadikan teladan dalam kehidupan ini.


Komentar
Posting Komentar