Keterbatasan Bukanlah Akhir dari Segalanya




Siapa bilang orang dengan keterbatasan fisik tak bisa menghasilkan apa-apa? Jangan salah, justru kita harus bercermin pada diri apa yang telah kita hasilkan? Orang dengan keterbatasan fisik terkadang justru mempunyai semangat yang lebih dibanding kita dengan fisik lengkap sering saja mengeluh dan patah semangat. Coba kita renungkan bersama teruntuk diri saya sendiri juga, kita sering mengeluh ya Allah kenapa badanku terlalu gemuk, hidungku tak mancung, gigiku agak maju ke depan, kulitku tak putih, dan masih banyak lagi rengekan meminta kesempurnaan fisik. Padahal Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk dibanding makhluk lain ciptaan Allah. “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin 95 : 1-8)


Perlu kita ingat bersama bahwa Allah menilai hambaNya bukan berdasar fisik, tetapi apa yang ada di hati, iman serta taqwa. Memang penilaian di mata manusia tak aka nada habisnya, tapi penilaiaan Allah segalanya. Betapa bersyukurnya kita diberi kesempurnaan fisik Patutlah kita mengucap beribu-ribu syukur dan tak ternilai nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Oleh karenanya, setiap bangun tidur di pagi hari, mari kita tengok ke luar rumah sambil menghirup udara pagi hari yang segar, ambil nafas tahan lima menit hembuskan ulang beberapa kali sambil berucap Ya Allah terima kasih atas nikmatMu sampai hari ini, Alhamdulillah saya masih bisa di beri kesempatan menghirup udara gratis dariMu, Alhamdulillah juga saya masih bisa berjalan, melihat pemandangan nan indah, menggerakan badan, tangan, dan masih banyak lagi sebutkan setidaknya sepuluh hal yang bisa disyukuri,waktunya sekitar ba’da subuh.

”Bergeraklah-bergeraklah, bangun lebih awal salat subuh diawal waktu lalu setelah itu jangan tidur lagi, bergerak, bergerak dan bergerak entah lakukan aktivitas apapun itu yang manfaat-manfaat lakukan berulang-ulang hingga kita menemukan bahwa Allah ridha pada kita dan banyak keajaiban-keajaiban akan muncul yang mungkin tidak kita sadari berupa anugerah-anugerah Allah (Febriati Almeera)". Setelah itu kita akan merasakan nikmat Allah yang luar bisa dan kita akan lebih bersemangat untuk memulai aktivitas. Dan rasakan manfaatnya coba, bandingkan jika kita terlambat bangun, terasa rugi kitanya. Selamat mencoba sahabat…memang awalnya berat mengubah suatu kebiasaan kurang baik ke arah lebih baik, tetapi lama kelamaan InsyaAllah kita bisa dan jika punya niat baik Allah juga akan bantu kita sambil terus berdoa sahabat. Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya dan diistiqomahkan. Aamiin…
Angkie Yudistia
        Mari sahabat kembali ke topic pembahasan dengan judul di atas. Wanita cantik mengispirasi kali ini adalah seseorang yang istimewa. Tidak seperti kita pada umumnya. Angkie Yudistia penyandang disabilitas mempunyai tekad kuat untuk tetap berjuang dan membantu sesame terutama yang bernasib seperti beliau. Beliau mengalami gangguan pendengaran sejak usia 10 tahun. Beliau tidak bisa mendengar kata-katanya sendiri apalagi suara dari luar. Ternyata setelah dibawa ke dokter khusus beliau menderita tuna rungu. Betapa sedihnya hati Angkie pada saat itu karena ia terlahir berbeda dari kebanyakan orang. Tuna rungu yang dideritanya inipun smempengaruhi kelancarannya pada saat berbicara. Ya tuna rungu identic dengan kelainan pada alat pendengaran yang kemudian mempengaruhi seseorang tidak bisa mendengar sekaligus tidak bisa berbicara.
Alangkah bersyukurnya sobat bagi kita yang terlahir dalam kesempurnaan fisik.  Rasa minder dan perlakuan diskriminasi dari orang-orang sekitar membuat penyandang disabilitas enggan untuk mewujudkan cita-citanya. Namun tidak bagi Angkie justru keterbatasan fisik yang dimilikinya ini memdorongnya untuk tetap bangkit dan semangat dalam meraih impiannya. Angkie menempuh bidang pendidikan di sekolah umum seperti rata-rata orang normal pada biasanya. Karena orang tua Angkie tidak mau membeda-bedakannya dia menganggap seperti anak pada umumnya. Walaupun mengalami kesulitan saat mengikuti pelajaran, wanita kelahiran 5 Juni 1987 ini tetap berjuang ekstra dari teman-temannya. Sering kali ia mengalami diskriminasi tak lazim dan ejekan dari teman-temannya. Namun, hal itu tak membuatnya patah semangat, hal ini dibuktikan dengan menambah jam belajarnya dengan memanggil guru privat untuk mengajarnya di ruma. 

Angkie memperhatikan betul tiap perkataan yang keluar dari teman dan guru-gurunya, untuk menyesuaikan diri dengan orang lain Angkie juga memasang alat bantu di telinganya. Setelah lulus dari SMA, Angkie melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar master bidang komunikasi pemasaran lewat jalur akselerasi di London School of Public Relations, Jakarta. Saat kuliah ia juga sempat menjadi finalis pemilihan Abang None Jakarta untuk wilayah Jakarta Barat pada tahun 2008. Pada tahun 2009 Angkie bergabung dengan Yayasan Tuna Rungu Sehjira bersama perempuan penyandang disabilitas lain untuk pengembangan potensi dan berbagi pengalaman agar bisa menerima keterbatasan. Sebelum memutuskan terjun ke dunia social Angkie sempat bekerja sebagai staf humas di beberapa perusahaan.
Namun, jiwanya terdorong untuk keluar dari perusahaan dan masuk ke dunia social terutama untuk membantu sesama disabilitas. Angkie juga dipilih sebagai duta Indonesia untuk perhelatan Asia-Pasific Development Center of Disability di Bangkok,Thailand dan memiliki usaha social bernama Thisable Enterprise untuk perubahan social bagi pemberdayaan kaum penyandang disabilitas di Indonesia. Dengan menggunakan kemampuan entrepreneurshipnya Angkie berusaha untuk melakukan perubahan social bagi para disabilitas di Indonesia. Angkie juga menuliskan perjuangan kisah hidupnya dalam sebuah buku yang berjudul”Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas” untuk memotivasi seseorang dengan kekurangan fisik agar bisa mengubah kekurangan tersebut menjadi sebuah kelebihan.     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Rindu~ Part 4

‘Hijab’ ~Perjalanan Hijrah Menemukan-Mu ~

Bring out the Beauty Inside