”Rindu”
Musim
penghujan kembali turun di bumi ini, ehmm entah sepertinya tak akan ada lagi
hujan jika di lihat dari kalender sebelumnya. Tapi, Allah jua lah yang mengatur
semuanya. Manusia hanya bisa menerka-nerka, kemarin udah musim hujan, lho koq
tiba2 muncul lagi hujannya. Ucapan Naura sore itu, Syukuri saja hujan ini akan
membawa berkah”jawab teman kostnya.
Rintik
hujan disertai bau segar tanah sore itu membawa kesejukan tersendiri bagi
Naura. Seorang mahasiswi perantauan dari kota seberang. Naura yang kala itu
sedang menanti adzan maghrib karena bertepatan dengan bulan Ramadahan, terdiam
sejenak seolah fikirannya mendesak untuk mengingat kembali dunia lamanya. Ia
berusaha segera memacu adrenalinnya agar terhindar dari ingatan lampaunya. Ya
Allah, hamba mohon jangan Engkau ingatkan kembali tentang masa lalu hamba,
bisikannya dalam hati.
Hujan
semakin deras menambah suasana menjadi semakin dingin. Hembusan angin cukup
kencang, seakan mengoyakkan hatinya yang sedang dilanda rindu. Sepertinya baru
berapa hari Naura balik ke sini, tapi kenapa rindu ini tak tertahankan jua. Ya
perpisahan dengan orang tuanya kala itu membuatnya resah. Belum lagi ditambah
kerinduan dengan nenek tercintanya.


Nenek
Naura yang telah mendahuluinya menghadap Sang Khaliq telah tiada kurang lebih
setahun lalu dan bertepatan dengan bulan Ramadhan jua. Isak tangis mengiringi
kepergian neneknya saat menuju ke tempat pemakaman. Naura cucu yang paling
dekat dengan nenek merasa terpukul sekali atas kepergian neneknya yang secepat
itu. Ia menanggap neneknya seperti sahabatnya sendiri, kala keluh kesah, suka,
duka, Naura cerita ke nenek pun demikian
dengan nenek. Untaian nasehat dari sang nenek selalu ia ingat. Ia paham betul
bagaimana isi hati orang tua yang notabene memang sudah lanjut usia.
Masa-masa
kesabaran di uji saat mengurus seorang lansia seperti nenek, karena neneknya
juga menderita katarak jadi penglihatannya kurang sempurna dan berat badan yang
agak besar menambah kesulitan saat aktivitas. Perlu penyangga dan penopang saat
akan berjalan.. Beruntung ada budhenya yaitu anak tertua dari nenek yang dengan
tekun merawatnya. Sebagai cucu Naurapun sering mengunjungi Nenek tercintanya,
sesembari duduk di pinggir kursi tangannnya diletakkan di bahu Neneknya sambil
memijat.
Takdir
tak bisa kita tentang, usia tak satupun makhluk tahu kapan Allah akan
mengambilnya. Semua sudah tertulis dalam Lahul Mahfudz saat kita ada dalam
kandungan tentang rezeki, jodoh, dan kapan Allah mengambil nyawa kita. Malam
itu Naura kembali membisikan kalimat tauhid di kedua telinganya sesaat sebelum
malaikat Maut menjemput neneknya. Tangannya erat memegang kedua tangan Naura,
sesekali berteriak seperti kesakitan, “aduh…aduh…aduh…Astagfirullah Haladzim,
aku ikut kamu Naura2.” Naura menguatkan dengan bisikan La ilaha illAllah dan
diikuti oleh neneknya dengan sesekali menggenggam erat tangannya.
“Sepertinya
ada yang hilang?”seolah batinnya meronta dalam hati.”Mungkin ini memang jalan
yang terbaik buat nenek.”batinya mencoba menguatkan kembali. Bukankah saat kita
kehilangan orang yang kita cintai Allah telah merancang berjuta kejutan untuk
kita? Bersabar atas ketetapNya akan menguatkan kita kembali. Dan bukankah di
balik musibah terdapat hikmah yang besar? Nampaknya Naura mulai belajar
mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Naura pegang teguh prinsip terus semangat
berbuat baik dan jadi baik. Karena ia yakin Allah akan memberikan yang terbaik
untuknya.
InsyaAllah kisah ini akan berlanjut sahabat...
Komentar
Posting Komentar