"Rindu" Part-2

“Semakin mengigatnya, semakin jauh pula lisan ini dari menyebut asmaNya”
- Ayu -
"Rindu" 
Part-2

Tiga tahun silam rentetan cerita keluar dari bibir manisnya. Rasa haru, mulai menyelimuti percakapan Naura dengan temannya. Naura tak bergeming apapun sampai dia selesai menceritakan semua masa lalunya.
Bukan tak peduli Naurapun seorang wanita juga punya perasaan yang remuk, redam entah apa jadinya jika peristiwa itu menimpa dirinya.
Naura berteman dengan dia ya sebut saja Melati, semenjak masuk di perguruan tinggi, mereka berdua satu kelas dan satu kostan.
Sosok Melati saat pertama kali bertemu terlihat santun, pendiam, lemah-lembut, dengan rambut terurai panjang, badan tinggi semampai ramping, dan cantik. Nampaknya menjadi kelebihan tersendiri baginya.
Kedua orang tuanya memilihkan kota pelajar bermaksud agar Melati bisa menuntut ilmu untuk bekal masa depannya yang lebih cerah.
Melati memang berasal dari keluarga berada terbukti sebelum satu kost dengan Naura. Ia menempati kost eksklusive dengan fasilitas yang cukup” wah” .

“Naura, aku kemaren habis shoping di Mall X lho,”
“Apa aja yang kamu beli, habis berapa eh?”
“Aku ngga tau tiba-tiba uang 1 juta habis “
“Uihh, what 1 juta??, (dalam hati Naura sambil mengelus dada Astagfirullah, uang segitu dalam satu kejapan) Apa ngga dimarahin ortumu Melati?
“Engga koq kak(biasa dia memanggil Naura) ini kan uang di Atm yang udah ditransfer ortuku.
Naura sedikit terkejut,” lain kali fikir-fikir dahulu jika memang kebutuhan tak apa, namun jika hanya menuruti keinginan berapapun uang pasti akan habis, dek”.
“Ngaa papa koq kak”geming Melati
 Okelah kalau itu kehendakmu, Toh dia juga udah dewasa pasti tau mana yang lebih diprioritaskan, batin Naura sedikit enggan untuk menasehati.

Episode demi episode sebagai mahasiswi baru mulai mewarnai dunia Melati. Peran mahasiswa ia lakoni seperti alur kebanyakan mahasiswa lainnya.
Pertemuannya dengan seorang kakak senior ya sebut saja Temy di kampusnya mengubah 180% kehidupan dari Melati yang biasanya.
Sebagai seorang teman Naura telah mewanti-wanti agar lebih berhati-hati berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi yang baru dikenal.
Namun, nampaknya gubrisan yang hanya di terima Naura, Melati telah menemukan dunia barunya.
Perkenalan itu bermula saat Temy dan Melati mengikuti satu organisasi yang sama di kampusnya.
“Kak, bilangin ke ibu kost aku pulang agak malem ya!”pinta Melati ke Naura lewat SMS di ponselnya.
“Memangnya kenapa dek, ini udah jam sepuluh malem lho, kamu di mana?”
“Masih nugas kak, nanggung kurang dikit, di tempat biasa kak”.
“ Sini bawa ke kostan aja dek, aku bantu selesaiin”imbuh Naura.
“Engga usah kak, udah ada Temy koq”'

Naura mulai khawatir dengan kelakuan Melati akhir-akhir ini, sudah sama-sama gedhe dan tak perlu untuk di ingatkan terus-menerus untuk membedakan mana yang benar dan salah.
Bukan hanya sehari-dua hari ini sudah terlalu sering Melatipulang sampai larut malam.
Biasanya Naura sudah terlelap tidur terlebih dahulu, mungkin hanya terdengar sedikit suara motor Temy mengantar Melati pulang yang ia dengar dari balkon atas kost.
Naura tidak sendirian, ada Melati dan tiga orang lain menempati kost puteri itu. Kebetulan Naura memang senang memilih kost itu karena di bawah adalah dihuni pemilik kost, jadi ada yang ngejagain dan seperti keluarga sendiri.

Temy tidak lagi sekedar mengantar jemput Melati, ia nampaknya sudah berani menampakkan batang hidungnya di are kost Naura.
Ya bisanya ia ada tempat khusus penerima tamu pria, karena memang tamu pria dilarang naik ke atas, dan Temy hanya menunggu di bawah.
Raut muka antusias dan berbunga saat menyambut kedatangan Temy , tak tanggung-tanggung segala macam makanan dari yang ia masak sendiri sampai jajanan berbau supermarket telah ia siapkan untuk someone sepecialnya kala itu.
Naura dari atas sesekali hanya mengamati drama cinta mereka berdua.
Taka da rasa iri sama sekali di hati Naura, namun malah sebaliknya ia kasihan kepada Melati.

“ Kak, laptop aku di bawa Temy dari kemaren padahal aku mau nyelesaiin tugas.”
“Kemaren uang cukup banyak kamu berikan sekarang laptop, besokan lagi apa dek?”
“ Katanya dia Cuma pinjem bentar kok kak, besok pasti juga balik.”
Nyatanya hingga beberapa hari Temy sulit untuk dihubungi. Wajah masam, kebingungan, dan panic mulai menyelimuti Melati.
“Aku udah hubungin dia beberapa kali kak, tapi taka da jawabnya.”
“Coba deh tanya rekan satu organisasimu.”
“Udah kak, tapi mereka ngga tau semua.”

Beban pikiran yang dialami Melati membuatnya depresi cukup berat, hingga penyakit maag dan asma yang dideritanya menerjang secara tiba-tiba.
Naura segera memanggil ibu kost. Segera Melati dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.
Keadaannya memang turun drastis, badannyapun terlihat semakin kurus.
Uang yang ia pegang hanya sisa seberapa saja, karena sudah terhabur keluar tak jelas tujuannya ke mana dan itu tak akan cukup untuk biaya di Rumah Sakit.
Opname selama tiga hari di RS elite butuh biaya cukup besar. Melati mulai bingung, ia tak mau orang tuanya mengetahui keadaan yang sedang ia alami sekarang ini.

“Malu kak, aku sama papa, seminggu lalu telfon aku udah minta kiriman uang yang buat bulan besok dan aku bilang semua baik-baik aja, termasuk studiku.”
Padahal nilai Melati merosot setelah mengenal Temy.
“Sekarang mau gimana lagi dek?” Biar nanti ibu kost telfon papamu aja ya.”
Orang tua Melati segera menuju ke RS untuk menjenguk puteri kesayangannya.
Papanya meng-cancel semua pertemuan bisnisnya demi Melati.
Melihat puterinya tergolek lemah, orang tua mana yang tak iba dan ingin membawa pulang.
Namun bayangan Temy kala itu masih menghiasi lamunan Melati.
Keadaan kembali normal, Melati beraktivitas di kampus seperti biasa. Tiba-tiba saja tersiar kabar bahwa Temy melanjutkan kuliah di kota kelahirannya dan anehnya sama sekali ia tak mengabari Melati yang sat itu masih menjadi kekasihnya.

Melati kembali pucat dan lemas. Temy yang sudah digadang-gadang akan menjadi pendamping hidup Melati. Sekarang malah kabur tak tau keberadaannya.

Naura mencoba menguatkan Melati.”Kak, hancur sudah, lenyap harapanku gerutunya di depan Naura.”
“Sabar dek mungkin ini sudah takdirNya. Kamu dihindarkan Allah dari laki-laki yang tidak baik. “
“Sekarang ayo kita ke masjid kampus dulu untuk shalat dzuhur sembari menunggu jeda kuliah selanjutnya.”

Mengingat kembali nasehat terakhir dari Naura, sepertinya Melati mulai Rindu untuk menyebut asmaNya yang dahulu sering ia ucap, namun semenjak kehadiran Temy menjauhkan dia dariNya.

Di sepertiga malam air mata tumpah membasahi kedua pipinya. Memohon ampun atas segala khilaf yang telah diperbuat.

Selama nafas masih berhembus dan jantung masih berdetak, selama itulah Allah masih memberi kesempatan kepada hambaNya untuk berbenah ke arah yang lebih baik lagi tentunya.

Semoga tak ada lagi Melati-Melati di luar sana yang menjadi korban para lelaki maaf miskin tanggung jawab dan semoga kita para muslimah terhindar darinya. Aaminn…


Best Regards,

Ayu
                                                                                                                          

                                                                                                                                                                       
                                                                                                                                   





Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Rindu~ Part 4

‘Hijab’ ~Perjalanan Hijrah Menemukan-Mu ~

Bring out the Beauty Inside