~Rindu~ Part 5

Image result for gambar kartun wanita muslimah berhijab syar'i

       Kutuliskan kembali cerita yang mungkin masih lama untuk menemukan ending kisah ini. Tetapi, aku harus tetap meneruskan kisah ini, kisah yang kuharapkan bisa menjadi primadona dikalangan pembaca. Namun masih terlampau jauh untuk dikatakan sempurna dan lolos cetak ke penerbit terkenal. Aku yang masih awam mencoba dan terus berusaha menuangkan segala yang ada dalam episode kehidupan.
Ku coba menelusuri kembali kisah Naura yang lama tak tertuang dilaman blogku ini. Baiklah sahabat akan kuawali tulisan ini dengan Bismillah…
 “Ketika hidup tak sesuai dengan harapan dan tidak tertata sedemikian rupa, seperti halnya puzzel yang belum tersusun rapi, coba tanyakan kembali kepada si pembuat puzzel, ia pasti telah menyediakan gambar yang sesuai untuk membantu tertatanya puzzel itu. Begitupun dengan hidup, dengan semua Rencana dan Ketentuan-Nya pasti Sang Maha Pemberi Hidup telah memberikan pola yang tepat untuk menyusun puzzel kehidupan ini. Agar menghasilkan ‘puzzel kehidupan’ sesuai dengan Kehendak Sang Pencipta .” –Ayu-
Naura harus segera bangkit menyusun kembali puzzel kehidupannya yang masih tercecer. Nampaknya ia mulai kebingungan ketika mencari kepingan puzzel yang berceceran entah ke mana dan harus diletakkan di mana. Berbagai macam cara ia coba mulai bertanya ke sana kemari, tetap saja tak menemukan jalan keluar.
Satu persatu pola mulai ia temukan untuk menghasilkan gambar yang sesuai dengan Ketentuan-Nya. Merayu pada Allah itulah yang mesti ia lakukan. Lalu bagaimana untuk mengawalinya, pikirannya mulai berkecamuk. Ia sadar betul apa yang dahulu ia lakukan jauh dari perintah Allah.
Mulai dari hal yang paling sederhana saja, ternyata apa yang ia kenakan selama ini tidak sesuai dengan aturan-Nya. Jeans ketat, baju minim, rok pendek, dan terurainya mahkota indah menjadi bagian tak terpisahkan dari Naura kala itu.
Sampai suatu ketika sebuah peristiwa menyadarkannya. Berada jauh dari kedua orang tuanya, tanpa pengawasan, bisa membuat Naura bebas melakukan apapun itu.
“Apa mungkin Allah bisa menerimaku kembali ? ”Perlahan tetapi pasti ia mulai menyusuri jalanan terjal untuk menyusun kepingan puzzel yang hilang. Tak mudah untuk menyusun puzzel itu, dengan penuh kehati-hatian Naura mencoba merangkainya kembali.Sayup-sayup pangilan suara adzan shubuh mulai terdengar dari rumah Naura.
Menerima ketetapan Qodo’ dan Qodar dari-Nya satu kunci yang meski Naura pegang.  Tak hentinya ia terus memanjatkan doa tulus untuk orang-orang terkasih. Rancangan kecil di buku diarynya mulai ia buka kembali. Masih banyak impian yang harus Naura gapai.Naura harus segera bangkit untuk mebuat Ibunya tersenyum kembali.
Kepergian ayahanda tercinta membuat Naura, Ibu, kakak, saudara, tetangga, dan rekan-rekannya sedih dan sedikit tidak percaya. Pasalnya  ayah Naura tidak mengidap penyakit apaun, terlihat sehat dan bugar sebelumnya.
Namun, Jum’at pagi Allah telah mengambil ayahnya. Di hari Jum’at pagi saat akan dibangunkan detak jantung ayahnya sudah tidak berdetak, badannya dingin namun paras wajahnya terlihat bersih, tidak mengeluarkan kotoran dan bau apapun seperti orang pulas sekali tidurnya dan badan yang berisi.
“Innalillahi wa inna ilaihiraji’un , Ya Allah semoga ini tanda khusnul khatimah dariMu ya Rabb untuk ayahaku tercinta” ucapan Naura lirih. Kepergian ayahnya sontak menggegerkan sanak saudara ataupun kerabat, tetapi inilah rencana indah yang sudah ditetapkan oleh Allah.
Masih segar difikiran Naura semasa kuliah ayahnya berpesan agar menghafalkan surah Yasiin, dan beberapa hari sebelum kepergian untuk selama-lamanya ayah Naura juga mengecek kembali hafalan Yasiin Naura,”pokoknya kamu harus hafal Yasiin dan dibaca sering-sering” ucap ayahnya. Naurapun mengangguk dan mengiyakan InsyaAllah. Ternyata tak disangka itulah pesan terakhir ayah Naura kepadanya. Hilir bergantian pelayat menyolatkan jenazah ayah Naura tak henti-hentinya terus berdatangan dari setelah dimandikan hingga akan di makamkan.
“Alhamdulillah, ayah banyak yang menyolatkan”, ucap kakak Naura kepada keluarganya.Tangisan memang tak bisa dibendung saat itu, apalagi ketika qori’ membacakan lantunan ayat suci Al Quran saat akan menggiring ayah Naura menuju ke pemakaman. Naura menangis menjerit tak karuan karena ia teringat lantunannya seperti ayahnya saat membaca Al-quran saat belum wafat dulu. Namun setelah usai Naura mencoba menguatkan Ibu agar tidak terlalu larut dalam duka ini, belajar untuk tabah, sbar dan ikhlas menerima semuanya.
Suasanu haru bergabung masih menyelimuti kediaman Naura saat itu hingga sampai ke pemakamanpun banyak pelayat yang menghantarkan jenazah ayah Naura. Ayah Naura memamng dikenal sebagai sosok yang sangat penyabar, penyayang keluarga, dan ringan tangan terhadap kesulitan orang lain, beliau juga ikhlas dan tulus dalam membentu sesama.
Terbukti banyak orang merasa sangat kehilangan dan menangis saat mengetahui bahwa ayah Naura sudah tiada. Apapun yang terjadi dalam hidup kita itulah yang terbaik untuk kita. Terus belajar untuk selalu menerima setiap alur yang sudah ditetapkan olehNya. Tak bisa lagi mengelak ataupun berburuksangka kepada Allah.
Naura terus mencoba untuk tetap tegar dan sabar dalam setiap cobaan yang sedang menimpanya. Tidak boleh larut dalam kesedihan tetap semangat dalam kebaikan dan meyakini bahwa Allah telah mempersiapkan kado terindah di depan sana.
Sekian postinganku kali ini sahabat ada baiknya diambil ada buruknya buang jauh-hauh nantikan cerita Naura dalam "Rindu" berikutnya ya…Semoga sahabat selau istiqomah tetap semangat dalam kebaikan dan meraih impian mulai: ) Jazakallahu khairan khatsiran, afwan jika banyak silap. Wassalamu’alaikum…
~AYU~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Rindu~ Part 4

‘Hijab’ ~Perjalanan Hijrah Menemukan-Mu ~

Bring out the Beauty Inside